Posts

Keunikan Manggeng, dari Peunayong Sampai Monas (II)

Image
Rawohnanggroe | Di sekitaran Manggeng Raya (gabungan Manggeng dan Lembah Sabil) ada banyak tujuan wisata asik yang bisa dikunjungi, seperti Pantai Ujong Manggeng, Pantai Kerikil Suak Beurumbang, Panorama Batee Lhee, Kawasan Rekreasi Krueng Baru dan masih banyak lagi.
Pedagang Batee Puteh di Kr. Baru | Foto: Acehkita
Selain yang sudah disebutkan di atas, Manggeng masih memiliki hal-hal unik yang mungkin tidak dimiliki daerah lain. Berikut ulasannya: Bagian I, klik disini!

Batu Putih Sebagai Oleh-oleh Khas

Mungkin ini yang paling nyeleneh. Kenapa? karena biasanya oleh-oleh itu dalam bentuk makanan atau pernak-pernik. Tapi di Manggeng buah tangan yang paling khas adalah Batu Putih. Para penjual bisa dengan mudah dijumpai di Kawasan Krueng Baru, di sepanjang Jalan Nasional atau persisnya di dekat jembatan. Batu-batu ini diambil langsung dari Krueng Baru.

Batu berwarna putih bersih ini biasanya dijual dalam satuan karung atau plastik, ukurannya pun beragam. Batu-batu ini sering digunakan untuk …

Ziarah Pusara Ulama Kharismatik Abuya Muda Waly

Image
Rawohnanggroe | Angin berhebus syahdu dari arah selatan menuntun kami hingga sampai ke Blangkeujeren, pusat Kecamatan Labuhan Haji Barat. Inilah tanah dimana syiar Islam tidak pernah sepi. Tanah yang mana masyarakatnya sangat berbangga karena seorang ulama besar pernah menghabiskan hidup di sini, mengabdi untuk mengajarkan agama Allah.
Peziarah Makam Abuya Muda Waly | Sumber: Google
Selain dikenal sebagai pusat pengembangan Islam di Aceh, Labuhan Haji punya keistimewaan tersendiri. Jika Anda sedang di sana tentu belum lengkap jika tidak mendatangi Darussalam. Di sinilah tiap saat pengkajian ilmu agama digemakan, terutama ilmu tasawuf. Daerah ini pun kini dijuluki dengan "Kota Pengkajian Tauhid Tasawuf".

Dayah Darussalah adalah salah satu pesanten yang sudah sejak lama melakukan pengkajian, pendidikan dan penerapan ilmu tasawuf. Darussalam berperan penting dalam mencetak generasi islam dan telah banyak melahirkan ulama-ulama besar Aceh dari dulu hingga sekarang.

Lokasi pesantren …

Pesona Keumumu Hilir yang Jarang Dikunjungi

Image
Rawohnaggroe | Kami masih berada di Aceh Selatan, tanah yang penuh dengan legenda. Bukan hanya terkenal karena keramahan dan keragaman masyarakatnya, daerah ini juga memiliki banyak keindahan alam yang mampu mebius siapa saja yang ke sana. Cadas dekat Pantai Keumumu Hilir | Foto: TimRN
Alam membentang dari Krueng Baru sampai Kapai Seusak dekat Kota Subulussalam masih menyimpan banyak keindahan dan hal menarik yang belum tersentuh dan diekspos media. 
Sebagai kabupaten yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, Aceh Selatan juga memilki banyak pantai yang indah. Salah satunya adalah Pantai Keumumu Hilir di Labuhan Haji Timur.  Letaknya tak begitu jauh dari Jalan Nasional, hanya sekitar 100 meter Lintas Blangpidie-Tapaktuan. Di sana ada sebuah pesantren yang dengan mudah terlihat dari jalan raya.
Tempat ini menawarkan daya tarik berupa bebatuan cadas yang tegak berdiri di dekat pantai, perairan tenang dan jejeran nyiur. Di sini gelombang kadang-kadang kuat menghempas bebatuan.
Di sana b…

Masjid Jamik Manggeng dan Tanah Perjuangan Tgk. Peukan

Image
Rawohnanggroe | Cuaca terik saat kami dalam perjalanan pulang dari Labuhan Haji. Karena sudah tiba waktu shalat, kami pun beribadah sambil beristirahat di satu masjid di Manggeng, Aceh Barat Daya. Rumah ibadah ini merupakan salah satu masjid utama di kota kecil Manggeng.
Memiliki satu kubah hijau | Foto: TimRN
Bangunan masjid itu hampir keseluruhan bercat putih. Letaknya persis di pinggir Sungai Manggeng dan bersebelahan dengan Jalan Nasional. Masjid ini kabarnya sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia.

Masuk ke dalam, suasana damai begitu terasa. Dekorasi dan relief bangunan memang tak begitu mewah, namun kami begitu merasakan kekhusyukan saat beribadah di sini. Lokasi masjid berada di Desa Meurandeh, Kecamatan Lembah Sabil  dan sering dikenal dengan nama Masjid Jamik Manggeng.

Daerah ini sendiri dikenal sebagai tanah perjuangan seorang pahlawan kemerdekaan, yaitu Tgk. Peukan. Di desa inilah pahlawan itu membangun keluarga kecil, mendidik dan melakukan perlawanan terhadap penjajah. Belia…

Trumon, Negeri Kaya yang Hilang

Image
Rawohnanggroe | Aceh tanah di ujung Pulau Sumatra yang penuh pesona. Wilayah istimewa ini sudah sejak lama dikenal sampai seantero dunia. Negeri kaya raya, alam dan sejarahnya. Dulu, pada abad ke 16 Aceh adalah satu dari lima peradaban Islam terbesar dunia.  Kemakmuran dicapai lewat perdaganggan internasional. Lada, emas, kemenyan, cengkeh dan pala merupakan komoditas paling berharga pada masa lalu.
Tim di Dermaga Trumon | Foto: TimRN

Wilayah Kesultanan Aceh Darussalam dulu terdiri atas negeri-negeri, seperti Pedir, Pasai, Daya, Linge dll. Di kawasan Pantai Selatan Aceh juga terdapat sebuah negeri yang pernah jaya pada abad ke 17-19 masehi. Negeri itu bernama Trumon.

Trumon dikenal sebagai salah satu bandar penting perdagangan rempah-rempah milik Kesultanan Aceh. Hasil dari bumi Trumon bahkan mencapai Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Kerajaan ini juga pernah mencetak mata uang sendiri.

Sayangnya, di pertengahan abad 19 masehi perlahan-lahan negeri Trumon kehilangan pamor sebagai…

Madat Manggeng, Sisa Masa Kesultanan Aceh

Image
Rawohnanggroe | Hembusan angin lautan membelai helai-helai daun. Suasana hening mengisi seluruh tanah yang bersejarah ini. Di antara rawa dan tambak inilah diperkirakan pusat pemerintahan Kenegerian Manggeng yang pertama.
Sisa bangunan Madat Manggeng | Foto: TimRN
Muhammad Ghauts Saiful 'Alam Syah seorang kartograf (pembuat peta) Kesultanan Aceh, menyebut pusat kenegerian itu dengan nama بندر مانكين (Bandar Mankin/Manggeng). Beliau adalah utusan penting Sri Paduka Sultan Ibrahim Manshur Syah pada abad ke-13 Hijriah/19 Masehi untuk memetakan bandar-bandar (kota-kota pelabuhan) di seluruh Aceh, bahkan Asia Tenggara/Kepulauan India (Jaza'ir Al-Hind).

Perjalanan beliau berhasil dengan dibuatnya sebuah peta yang kemudian dibawa bersamaan dengan surat penegasan hubungan diplomatik antara Aceh Darussalam dan Turki. Surat itu dibawa oleh Sidi Muhammad yang ditujukan langsung kepada Sultan Abdul Majid di Istanbul. Bandar-bandar yang dicantumkan Muhammad Ghauts dapat diidentifikasi hingga …

Cita Rasa "Rukok Pucok" Khas Aceh

Image
Rawohnanggroe | "Rukok Pucok" —bahasa lokal (rokok dari pucuk nipah) merupakan rokok tradisional yang masih bertahan hingga kini di Aceh.Rokok jenis ini hanya dihisap oleh kalangan tertentu, terutama orang tua di perkampungan. Komposisinya hanya terdiri dari dua bahan alami, yaitu pucuk daun nipah dan tembakau.
Nipah muda dan tembakau | Foto: TimRN
Membuatnya cukup mudah, hanya perlu melinting/membalut tembakau dengan daun nipah muda yang sudah dikeringkan. Selain lebih murah, perpaduan dua bahan alami ini akan menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang berbeda dengan rokok modern zaman sekarang.

Kebiasaan merokok menggunakan daun nipah sebenarnya juga ditemukan di daerah lain di Sumatra. Di Aceh sendiri, rokok tradisional ini masih bertahan dibeberapa daerah seperti Abdya, Aceh Selatan, Nagan Raya dll.

Saat diadakan hajatan pernikahan misalnya, selain ranup, rukok pucok jadi salah satu hal yang disediakan tuan rumah untuk tamu laki-laki. Biasanya akan ditaruh dalam gelas kaca, …

Di Aceh, Menikah dan Khitanan "Harus" Berinai

Image
Rawohnanggroe | Kali ini kami ingin membagikan tulisan tentang satu tradisi unik memakai inai. Di Tanong Rencong kegiatan adat ini disebut "boh gaca" yang dilakukan saat pesta perkawinan dan kadang-kadang khitanan. Tradisi boh gaca masih tetap bertahan hingga kini, baik di kampung dan di kota disebagian wilayah Provinsi Aceh.
Seorang dara baro sedang memakai inai | Foto: TimRN
Sekilas kegiatan ini mirip dengan budaya memakai inai di India, dan mungkin saja memang ada pengaruh dari sana. Dalam kenyataannya tidak diragukan lagi, budaya India memang sangat dekat bahkan mempengaruhi budaya Aceh dan Indonesia pada umumnya.


Kegiatan ini hanya prosesi adat semata. Tak ada yang mewajibkan harus dilakukan. Hanya saja, karena sudah jadi kebiasaan, jika hal ini ditinggalkan akan tersasa ada kurang.

Salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi ini adalah Aceh Barat Daya. Di kabupaten ini, boh gaca biasanya dilakukan pada malam hari. Tidak tanggung-tanggung, kegiatan tersebut digelar …